Friday, February 17, 2012

Bertatih Ke Pintu Itu

Hanya berbekalkan sedikit cahaya
Ku meredahi kegelapan tempat ini
Dahulunya tempat ini agak terang
Getus hati diiringi dengan tapak kaki melangkah

Terlihat olehku bermacam gambar di dinding
Senyum tawa dan tangsan duka terpapar daripadanya
Bau busuk hanyir menyelubungi namun ku tahankan sahaja
Ini peluang untukku menyelami diri kembali

Nota-nota penuh berselerakan di merata tempat atas lantai
Menyimpan seribu satu melodi emosi yang tidak pernah terungkap
Andai dibukukan jadilah seperti novel kehidupan yang tragis dan sadis
Bisa merubah manusia optimis menjadi pessimis

Perjalanan diteruskan dengan menemukan sebuah monumen
Berbunga jiwaku melihatnya
Cinta sepenuh jiwa
Ku mendekati dan terlihat sepucuk surat tersisip di celahan aksara itu
Tertulis 'Aku masih menunggu janji-janji mu'

Aku kebingungan sementara
Gerangan apakah yang telah dijanjikan oleh diriku?
Ya, sudah kuingat namun diri ini lebih suka untuk berdalih
Ya, aku akur akan tanggungjawab yang perlu aku laksanakan
Namun diri ini bukanlah seperti dulu
Jikalau dahulunya berlari laju di landasan
Kini bertatih dan tersungkur

Menggenggam erat surat lalu diteruskan kembara
Terdengar olehku suara
'Bagaimana untuk merealisasi impianmu jika dirimu sendiri yang menjadi onak duri?'
Berderau darahku, ingin sahaja ku menghayun buku lima namun terhenti oleh kebenaran ayatnya
Ku menoleh ke kiri,kanan,depan dan belakang tiada siapa kecuali hilaian sinis

Akhirnya ku temukan jua pintu keluar
Pintu yang berkunci serta berkarat
Seperti sekian lama sudah tidak terjaga
Alangkah sedihnya!
Pintu ini tidak terbuka sepenuhnya
Setelah separuh nyawa ku menolaknya

Kini ku hanya mampu tersandar di tepi
Mengintai di celahan, berharap agar pertolongan daripada Yang Tercinta
Pertolongan untuk membuka lantas menggubah semula taman ini
Taman yang dijanjikan keindahan sejati bila Dia di sini
Syurga dunia yang bernama hati

No comments:

Post a Comment